1 Sam 3: 19-21

Di belahan dunia Timur, kebiasaan anak selalu dibawah pengawasan orang tua. Uniknya, sesuatu yang tidak lazim dilakukan ibu Hana, menyerahkan anak lelaki yang diharapakannya di bawah perlindungan Tuhan. Samuel sejak usia dua tahun tidak lagi diasuh oleh orangtuanya. Tuhan yang merawat, membina dan membimbing hingga memperoleh jabatan nabi.

Secara global disiratkan cara kerja bimbinganNya dalam membesarkan Samuel adalah dengan:

  1. Dibesarkan oleh penyertaanNya (ay 19b). Frasa “Tuhan menyertai” muncul 11x dalam kitab Samuel. Setiap detik Tuhan tidak pernah melepaskan pendampinganNya. memperhatikan frasa “menyertai” dalam bhs Ibrani adalah “wayah immo” dalam bentuk tenses verb qal perfect (sorry Pak Tonny akademis bingit), artinya Tuhan secara sempurna telah melakukan pendampinganNya kepada Samuel sejak kecil sampai dewasa. Terjemahan variasi dari kata “wayah immo” adalah Tuhan selalu ada bersamanya. Istilah yang lebih modern dari kata itu adalah Tuhan bergaul karib dengannya. Kemanapun Samuel berjalan Tuhan mengikutinya dan pada dewasa muda ia mengerti jalan hidupnya sebagai hamba yang dipersiapkan sebagai pemimpin Israel. Dan pada akhirnya visi Tuhanlah yang dijalankan Samuel. Tuhan terus melakukan pengawasan yang menghasilkan karakter, spiritualitas yang semakin signifikan. Sekalipun oleh penulis kitab disebutkan dalam ayat 1 bahwa Samuel berada dibawah pengawasan imam Eli. Memperhatikan keburukan etiket Eli tentu tak akan membawa dampak baik kepada Samuel sebagaimana Hofni dan Pinehas yg semakin hari semakin mengalami degradasi. Bagian ini menjadi pelajaran bagi saya untuk menyerahkan anak saya di bawah bimbingan firman Tuhan. Alkitab harus mereka “makan” dan“minum” setiap hari agar rohani mereka besar dihadapan Tuhan.
  2. Dibesarkan oleh penampakanNya (ay 21). “Tuhan menampakkan diri” satu-satunya frasa yang muncul di kitab Samuel. Guru utama Samuel secara langsung adalah Tuhan. Perhatikan kata “selanjutnya” dalam Ibrani “yasaf” dalam bentuk verb hiphil waw consec imperfect, artinya Tuhan terus menerus, lagi dan lagi, berulang-ulang, berkali-kali, terus menerus memperlihatkan diriNya kepada Samuel. Kata “menampakkan diri” sama dengan bertatap muka. Tuhan yang secara aktif memperlihatkan diriNya kepada Samuel. Samuel tidak mencari-cari wajah Tuhan. Samuel pada posisi pasif. Dalam teologi PL orang yang melihat Tuhan akan mati. Dalam konteks ini Tuhanlah yang berkepentingan memperlihatkan diriNya kepada Tuhan, sehingga di dalam kemahakuasaanNya, ketika Samuel melihatNya ia tidak mati. Tuhan sebagai guru berbicara secara terlihat sehingga Samuel sungguh dapat mengenalNya. Pengalaman rohani yang nyata ini yang memberanikan Samuel sangat lantang berbicara atas nama Tuhan dalam sejarah Israel. Pengenal kepada Tuhan yang jelas akan memberikan kepercayaan diri dalam melayaniNya.
  3. Dibesarkan oleh penyataanNya. Tuhan berbicara dengan jelas kepadanya, membukakan rahasiaNya, mengungkapkan kehendakNya, mengumumkan kemauanNya. Semua itu diserap oleh Samuel dengan baik.
  4. Dibesarkan dengan firmanNya. Tuhan menyampaikan perkataanNya kepada Semuel. Perhatikan kata dengan perantaraan firmanNya (LAI) di dalam Ibrani adalah “dengan perkataan YHWH”. Pusat pendidikan rohani Samuel adalah di Silo. Tuhan menjadi pengajar, guru secara langsung bagi Samuel. Sabda Tuhan yang didengarkannya dari hari ke hari, tahun ke tahun ini yang membesarkannya mejadi seorang nabi, imam dan hakim. Berapa lama Tuhan memperlihatkan, memperdengar diriNya kepada Samuel? Sejak usia 2 tahun sampai 80 tahun. Waktu yang indah memiliki relasi yang intim dengan Tuhan. Ia tidak belajar teologi di suatu STT, tidak belajar kepemimpinan di suatu universitas, tidak belajar ministri di suatu sekolah pelayanan, tidak kuliah penatalayanan ekonomi di suatu institut, ia belajar langsung dari MAHAGURU SORGAWI. Relasi intim dengan firman membuatnya sukses sebagai pemimpin rohani di sejarah keselamatan Israel.

Sementara dari pihak Samuel dalam pendidikan sorgawi dengan prinsip:

  1. DibesarkanNya mesti berpegang pada firmanNya. Ia menempuh pendidikan teologi di STT Sorgawi dengan prinsip semua perkataan Tuhan tidak dibiarkannya jatuh (LAI gugur). PernyertaanNya, penampakanNya, penyataanNya diresponi dengan kesetiaan kepada firman Tuhan. Dua hal ini harus klop antara Tuhan dan pihak pemercaya. Seseorang yang menyatakan diri percaya Tuhan harus diikuti dengan ketaatan pada sabdaNya. Jadi rumusnya anak Tuhan adalah percaya + pelaku firman.
  2. DibesarkanNya dengan tidak dijatuhkannya firman Tuhan. Ia tidak membiarkan, atau ia tidak menyebabkan firman dalam hidupnya gagal dilakukan. Semua ia lakukan. Komitmen iman Samuel adalah tak satu pun firman yang akan dilanggarnya. Mengecap firmanNya sebagai nutrisi sejati bagi rohani akan menguatkan seluruh hidup. Pikiran, kehendak, emosi dikhamiri oleh firmanNya.
  3. DibesarkanNya dengan menjadi saksi bagi Israel. Dua prinsip di atas menjadi teladan bagi Israel. Semua orang tahu bahwa Samuel jujur, bersih dan lurus di dalam jalan Tuhan. Israel menjadi saksi hidup bahwa ia sepenuhnya hidup dalam kebenaran firman Tuhan. Samuel tidak bersaksi atas dirinya sendiri. Orang Israel memberi penilaian atas dirinya. Namanya menjadi tersohor dari Utara (Dan) sampai Selatan (Bersyeba) karena nama Tuhan yang ia junjung tinggi.
  4. DibesarkanNya dengan wajib menjabat nabi. Apakah tujuan Tuhan membesarkan Samuel dihadapan FirmanNya, agar ia menerima jabatan nabi. Apakah fungsi seorang nabi, yaitu menyampaikan, menyuarakan, menjelaskan, menguraikan, memproklamasikan kehendak Tuhan dengan cara berkhotbah, mengajar, memperagakan, berpidato, berorasi. Suatu kehormatan menerima suatu tugas pelayanan tanpa harus sombong/angkuh. Bila kita dibesarkan oleh firmanNya (semakin bertumbuh dan berbuah) maka ada performa yang mengikutinya yaitu memaksimalkan diri dalam pelayananNya.

Salam bertumbuh dan berbuah rohani bagi TUHAN

Ev. Tonny Mulia Hutabarat
26 November 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *