Minggu, 14 November 2021 – Ev. Binsar Maruli Sitorus

Ada perbedaan arti antara istilah “hari-hari terakhir” (the last days) dengan “hari terakhir” (the last day), atau akhir zaman. Istilah “hari-hari terakhir” merujuk pada masa antara kedatangan Kristus pertama dengan kedatangan Kristus yang kedua kali. Kita sekarang sedang berada di hari-hari terakhir, yaitu masa penantian kedatangan Kristus yang kedua kali. Sedangkan istilah “hari terakhir” atau “akhir zaman”, merujuk kepada hari kedatangan Kristus yang kedua kali, atau hari penghakiman akhir.

“Tanda-tanda zaman” yang ada di hari hari-hari terakhir (the last days), berupa bencana alam, wabah penyakit, pandemi, peperangan, merosotnya moralitas, kemurtadan, kesengsaraan, dan sebagainya, akan terus terjadi di sepanjang sejarah sampai menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali. Namun, umat percaya yang menerima anugerah keselamatan dan namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan, memperoleh jaminan kepastian keselamatan (Daniel 12:1).

Pada “hari terakhir” (the last day), saat kedatangan Kristus yang kedua kali, kebangkitan orang percaya dan orang yang tidak percaya akan terjadi bersama-sama (Daniel 12:2, bandingkan Yohanes 5:28-29). Orang percaya akan menerima hidup yang kekal, sedangkan orang yang tidak percaya akan menerima hukuman kekal.

Orang-orang percaya yang memperoleh hidup yang kekal digambarkan dalam bagian ini, seperti orang-orang bijaksana yang bercahaya di tengah-tengah kegelapan dunia, dan menuntun banyak orang kepada kebenaran (Daniel 12:3). Inilah penggambaran dari kehidupan orang-orang beriman yang diselamatkan oleh Tuhan.

D.A. Carson, seorang teolog dan Ahli Perjanjian Baru menyatakan, “Adalah benar bahwa manusia diselamatkan oleh anugerah Allah melalui iman kepada Kristus, tetapi adalah juga benar bahwa anugerah Allah di dalam hidup manusia tidak bisa tidak menghasilkan ketaatan…”. Jika kita benar-benar sudah di dalam Kristus, dan sudah menerima anugerah keselamatan, maka seharusnya kita mengalami “buah anugerah”, yaitu hidup dalam ketaatan, hidup dalam kekudusan, dan kebenaran. Jika tidak ada sama sekali kerinduan dalam hati kita, untuk hidup benar di hadapan Tuhan, hidup taat dan memuliakan Tuhan, kemungkinan besar, kita belum mengalami karya kelahiran baru oleh kuasa Roh Kudus. “Merasa diselamatkan”, tidak sama artinya dengan “sungguh-sungguh sudah diselamatkan.” Ada sebagian orang Kristen yang mungkin merasa sudah diselamatkan, tetapi sebenarnya belum lahir baru, belum diselamatkan. Kita perlu waspada dan mengevaluasi kerohanian kita dengan jujur di hadapan Tuhan.

Kita diselamatkan bukan karena kesalehan dan perbuatan baik kita, tetapi hidup dalam kesalehan dan perbuatan baik adalah buah dari hidup yang telah diselamatkan. Kita dipilih bukan karena kita kudus, tetapi supaya kita kudus (Efesus 1:4). Tuhan menebus dan menyelamatkan kita, dengan tujuan supaya kita kembali kepada gambar Allah yang semula, yang sudah cemar oleh dosa, dan supaya kita hidup memuliakan Allah, menjadi terang di dalam berbagai aspek kehidupan kita. Dalam masa penantian kedatangan Kristus yang kedua kali, selalu ada penderitaan, kesesakan, sakit-penyakit, penganiayaan, dan sebagainya, tetapi umat percaya yang hidup dengan iman kepada Allah, akan tetap bertekun setia dan berbuah sampai akhir, karena Allah menopang umat yang dikasihi-Nya. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita, untuk hidup berbuah dan bercahaya di tengah-tengah kegelapan dunia ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *