Minggu, 31 Oktober 2021 – Pdt. Sahala Marpaung

Selama tahun-tahun terakhir hidupnya, seorang profesor ternama dalam bidang teologi di Skotlandia kehilangan ingatan akan masa lalunya. Sekalipun tetap bersikap ramah kepada mantan rekan-rekan di universitas yang datang berkunjung, ia sama sekali tidak ingat bahwa ia pernah mengajar di tempat yang sama dengan mereka dan bahwa mereka adalah teman-teman baiknya selama bertahun-tahun. Namun yang menarik, meski lupa akan masa lalunya, ternyata ia tidak pernah lupa kepada Allah. Itulah sebabnya ia selalu bersyukur kepada Allah.

Demikianlah halnya dengan Yosua, seorang pemimpin Bangsa Israel, di tengah-tengah banyak orang yang telah melupakan dan meninggalkan Tuhan pada waktu itu, ia tidak pernah melupakanTuhan di dalam hidupnya. Bahkan di usianya yang lanjut dan menjelang akhir hidupnya, ia menggunakan kesempatan untuk menyampaikan Firman Tuhan kepada seluruh Bangsa Israel (Yosua 24:1-15). Di mana, ia mengingatkan Bangsa Israel agar tidak melupakan Tuhan yang telah memberkati mereka, sehingga mereka dapat hidup di dalam damai dan sejahtera di tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Bahkan ia mendorong mereka untuk bersyukur kepada Tuhan dengan memilih hidup beribadah kepada-Nya. Namun, sebelum menyuruh mereka untuk memilih beribadah kepada Tuhan, Yosua terlebih dahulu menyatakan pilihannya, yakni bahwa ia dan seisi rumahnya beribadah kepada Tuhan (Yosua 24:15b). Pernyataan Yosua ini menunjukkan bahwa ia bukan hanya pemimpin yang besar bagi bangsanya, tetapi juga seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab bagi keluarganya. Baginya beribadah kepada Tuhan adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh Yosua dan keluarganya. Karena bagi Yosua ibadah adalah sebuah pelayanan kepada Allah dan itulah sebuah pilihan yang ia ambil. Bahkan ia berkomitmen untuk melakukannya. Yosua dan keluarganya berkomitmen untuk mengikatkan diri, mengabdi kepada Tuhan dan melayani-Nya seumur hidup mereka. Karena Yosua tidak mau melupakan Tuhan yang telah berkarya di dalam kehidupannya dan bangsanya. Itulah sebabnya, Yosua bersyukur kepada Tuhan untuk semuanya itu, dengan mengabdikan hidupnya dan keluarganya untuk beribadah dan melayani Tuhan seumur hidup mereka. Demikianlah Yosua menjadikan diri dan keluarganya sebagai contoh/teladan untuk berkomitmen beribadah dan melayani Tuhan sebagai ungkapan syukurnya kepada Tuhan yang telah berkarya memberkatinya dan keluarganya.

Karena itu, ia menantang seluruh Bangsa Israel untuk mengambil keputusan beribadah kepada Tuhan (ayat 16-18), sambil mengingatkan mereka akan karya Tuhan yang telah memberkati mereka dengan keselamatan dan memberikan mereka tanah yang telah dijanjikan-Nya kepada nenek moyang mereka, yakni tanah yang berlimpah susu dan madunya (ayat 17). Yosua berharap, sebagaimana ia dan keluarganya telah mengambil keputusan untuk beribadah kepada Allah, demikianlah juga halnya dengan Bangsa Israel. Karena ketaatan untuk beribadah kepada Tuhan akan mendatangkan berkat kepada mereka, tapi sebaliknya, ketidaktaatan akan mendatangkan penghukuman atas mereka. Oleh sebab itu, mereka harus mencondongkan hati mereka hanya kepada Tuhan. Ini berarti hati mereka lebih condong/berat kepada Tuhan, bukan kepada yang lain. Inilah pengertian yang sesungguhnya dari ibadah, yakni kehidupan yang lebih berat/condong kepada Tuhan, dibandingkan kepada yang lain. Bagaimanakah dengan saudara dan keluarga?

Saudara, setelah kita diberkati, baik secara jasmani, yakni pemeliharaan, perlindungan dan berkat-berkat yang telah kita terima hingga saat ini, maupun secara rohani, yakni keselamatan di dalam Kristus, yang telah memindahkan hidup kita dari kematian akibat dosa kepada kehidupan kekal bersama-Nya karena karya penebusan-Nya bagi kita. Maka sudah sepatutnyalah kita berterima kasih/bersyukur kepada Tuhan. Marilah kita dan keluarga kita secara bersama-sama bersyukur kepada Tuhan dengan berkomitmen untuk beribadah dan melayani-Nya seumur hidup kita. Karena itu, selagi ada kesempatan, marilah kita gunakan untuk bersekutu, beribadah dan melayani Tuhan. Kita bisa memulainya di dalam keluarga kita dengan membuat altar keluarga, di mana kita bisa berdoa bersama dan sharing firman melalui saat teduh kita. Kita juga bisa terlibat di dalam persekutuan doa dan ibadah yang diadakan oleh gereja setiap minggunya. Bahkan kita sekeluarga bisa berkomitmen untuk melayani dengan mengambil bagian dalam pelayanan di gereja kita ini. Mungkin Bapak Ibu dan Saudara-saudari bisa melayani di gereja sebagai Majelis, Pengurus Komisi, Guru Sekolah Minggu, Pelayan Ibadah (Liturgos, Singer, atau Pemusik untuk mengiring jalannya ibadah) dan Paduan Suara. Marilah kita sekeluarga saling mendukung satu sama lainnya di dalam beribadah dan melayani Tuhan. Lakukanlah semuanya itu sebagai wujud syukur kita kepada Tuhan yang telah memberkati kita dengan segala berkat jasmani dan rohani di dalam kehidupan kita dan keluarga kita hingga saat ini. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua, amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *