1 Samuel 2: 11-26

Imam Besar Eli gagal mendidik kedua anaknya Hofni dan Pinehas, padahal ketiga pria ini sama-sama melayani di bait suci di Silo. Jabatan istimewa dan yang dipilih/diurapi Tuhan, namun semberono dalam hidupnya. Mungkin mereka terlalu sibuk pada “tugas” dan tidak mengkaitkan kinerjanya sebagai pekerjaan Tuhan. Pelayanan korban-korban suci hanya sebatas profesi manusiawi. Pada umumnya imam adalah mediator agar doa dan persembahan umat sampai kepada TUHAN. Sungguh disayangkan mereka gagal dalam karatersitik rohani.

Dari pihak Eli yang sudah melayani sebagai imam dan hakim selama 40 tahun muncul “rasa nyaman” yang membunuh karakternya, terjebak dalam rutinitas yang hampa/kosong sehingga lalai mendisiplin kedua anaknya. Eli di masa “kejayaannya” tidak tegas mendidik anaknya. Atau Eli sedang dimabuk kuasa dan jabatan, sehingga ia juga meninabobokkan kedua putranya tumbuh tanpa integritas.

Hal yang mengejutkan dari penulis kitab Samuel adalah pemberian label kepada identitas dua anak Eli, yaitu: diberi status anak belial (12a versi teks Ibrani Kuno), versi LAI adalah “dursila”. Dalam kamus biblical theologies baik PL dan PB, kata belial selalu dikaitkan kepada arti yang jahat banget, kekerasan secara moral dan seksualitas. Paulus memakai kosa kata ini di kitab Korintus sebagai anti Kristus, atau anak-anak setan atau kroni-kroni setan.

Kejahatan anak-anak Eli secara kualitas dan kuantitas jamak (banyak melakukan kejahatan) (ay 23). Mereka meremehkan sistem pengorbanan suci, melakukan seks bebas di pintu tunggu bait suci, menyepelekan nasehat suci dari Papanya (sebagai wakil Tuhan). Mereka besar dalam lingkungan keluarga suci tetapi karakter mereka dikuasai oleh pengaruh setan (Iblis).

Mengapa bisa berkarakter “iblis”? Pada ayat 12b disebutkan oleh penulis Kitab Samuel bahwa kedua pria tersebut “tidak mengindahkan TUHAN” (versi LAI), dalam versi Ibrani disebut mereka “lo yada” artinya “tidak mengenal”. Dalam versi Inggris “they did not knew” (KJV, JPOT, ASV). Dalam versi Batak TOBA “ndang ditanda” (tidak mengenal secara dekat).

Kata kerja “tidak mengenal” dalam Ibrani adalah “perfect”. Jadi mereka sungguh (1) tidak mengenal/mengerti TUHAN (2) tidak memiliki relasi dengan TUHAN, (3) tidak mempunyai persahabatan dengan TUHAN, (4) mereka tidak percaya TUHAN (5) Mereka tidak menerima dan mengakui TUHAN.

Jadi kata “belial” (dursila) dan “tidak mengenal” (tidak mengindahkan) saling menguatkan. Jadi kedua anak Eli menolak Tuhan dan menerima Iblis. Ironis, mereka bekerja/melayani di bait kudus tetapi tanpa iman. Imam yang melayani umat tetapi anti-TUHAN. Mereka bekerja di bait suci hanya untuk/demi “perut”.

Ketika kita melayani di gereja, sungguhkah kita percaya TUHAN, atau kita mengerjakan pelayanan hanya sebatas aktualisasi diri (show)?

Ev. Tonny Mulia Hutabarat
20 Oktober 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *