1 Petrus 5:1-11

Ketika kita ingin meninggalkan orang yang terkasih dalam jangka waktu yang cukup lama, sudah tentu kita akan mengingatkan dan memberikan pesan terakhir. Pesan ini mempunyai tujuan, sebagai pengingat, menenangkan jiwa atau sebuah peringatan untuk selalu waspada.

Petrus dalam perikop ini memberikan pesan dan nasihat terakhir untuk para jemaat yang tersebar dan berjuang dalam penganiaayan, penderitaan di Asia kecil. Pesan ini terbagi menjadi empat bagian, pertama pesan khusus kepada penatua (ay.1-4), pesan kepada orang tua-muda (“Household,” ay. 5-7), sebuah kewaspadaan akan musuh (ay. 8-9), dan penegasan terakhir tentang Sumber kekuatan dan alasan untuk berjuang. Bagian ini adalah pengulangan dan penegasan tentang apa yang pernah disampaikan Petrus dalam keseluruhan dari pasal 1-4.

Pada bagian pertama (ay.1-4) adalah bagian yang menarik, di mana Petrus mengajak para penatua, untuk mengasihi Allah walau akan mengalami penganiayaan dan penderitaan akan iman. Cara Petrus mengingatkan para penatua, yakni dengan memberikan nasihat praktis dan mencoba menyimpulkan ulang dari peristiwa yang pernah dialami Petrus, bagaimana Petrus gagal mengerti tentang mengasihi Allah (Yoh. 21:15-19). Padahal, Petrus adalah murid yang paling dikasihi Yesus (Yoh. 21: 20-23).

Fokusnya, adalah mengenal dan mengasihi Allah dengan cara menggembalakan domba-domba Allah (mengasihi jemaat dan mengajarkan Injil melalui kehidupan mereka), serta menjadi teladan dalam setiap tutur kata dan perbuatan, sehingga Allah dipermuliakan melalui hal itu. Pada bagian kedua (ay. 5-7), merupakan penegasan kembali sebuah hidup dalam ketundukan sebuah struktur hierarki, di mana struktur yang dipakai adalah struktur rumah tangga (pasal 3: 1-12).

Fokusnya adalah sebuah ketundukan diri kepada Allah, yang memberikan sebuah kerendahan hati, karena Allah menentang orang yang congkak dan mengasihani orang yang rendah hati (ay.5). pada bagian ketiga (ay.8-9), berisikan peringatan akan Iblis sebagai musuh yang selalu siap untuk memangsa dan hanya bisa dilawan dengan Iman kepada Yesus Kristus.

Pada bagian terakhir (ay. 10-11), sebuah penegasan bahwa Allah sumber segala sesuatu yang memberikan kekuatan dan menolong serta memampukan seluruh orang Kristen yang tersebar tersebut tetap kuat dalam iman. Hal ini juga memberikan sebuah alasan keberhargaan penderitaan di dalam iman kepada Yesus Kristus, untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Melalui pesan pesan terakhir dari Petrus ini mengingatkan dan meneguhkan kita sekali lagi, bahwa penganiayaan dan penderitaan adalah suatu harga yang harus kita bayar. Akan tetapi, harga itu setimpal dengan kasih-Nya yang telah memberikan kita kehidupan baru dan melepaskan kita dari kebinasaan serta murka Allah. Oleh karena itu, berita inilah yang harus kita bagikan kepada orang-orang terdekat kita, dan berjalan bersama saling menguatkan dan meneguhkan iman yang mungkin penuh dengan tantangan serta godaan untuk melepaskan iman kita.


Mari, kita saling berpegangan tangan dan menyatukan hati dan pikiran kita tertuju kepada kemuliaan-Nya, sehingga setiap apapun yang kita pikirkan, perkatakan serta apa yang kita kehendaki bisa selaras dengan rancangan dan kehendak-Nya.

Asidoro Sabar Parsaulian Pasaribu
12 Oktober 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *