Minggu, 25 September 2021 – Ev. Tonny Mulia Hutabarat

Sungut-sungut (keluhan) suatu tindakan universal yang hampir disepelekan bahkan untuk sebagian orang tak dikategorikan sebagai dosa. Padahal perbuatan tersebut adalah tidak bekernaan di hadapan TUHAN, suatu tindakan jahat penghinaan dan pelecehan kepada TUHAN (bdk 1 Kor 10:5,10). Orang tidak akan pergi ke psikiater, konselor, rohaniawan untuk mendapatkan obatnya. Pada bacaan Bilangan 11:1-23 ketika sungut-sungut dilontarkan api turun di Teberah Kibrot karena dosa yang serius dan parah.

Kisah perjalanan Israel pada Bilangan 1-11 sebenarnya tidak ada yang kurang, tidak ada kesulitan, tetapi mulai bosan, mengeluh, boring. Kemudian sungut-sungut meluncur dari “bajingan” dan menular ke perkemahan dan setusnya kepada Musa. Protes akan manna yang membosankan padahal bisa diolah dengan variasi (ditumbuk, digoreng, dipanggang, dimasak).

Karakteristik sungut-sungut pada kisah ini adalah: (1) tindakan melupakan kebaikan cinta-Nya, dan kekuasaan-Nya. Protes, kritik terhadap pemberian yang terbaik dari Tuhan. Gagal berpikir, gagal memaknai, gagal memahami rencana Tuhan. (2) Bersungut-sungut adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap penyertaan Tuhan. Tidak ada keyakinan bahwa perjalanan padang gurun selama 40 tahun adalah pegaturan sempurna dari TUHAN (3) Menggerutu juga berarti menyangkal pemeliharaan Tuhan akan masa depan. Masa lalu, kini, depan adalah pimpinan mutlak Tuhan. Kembali ke Mesir adalah penghinaan kepada Tuhan, pencelaan manna dan peninggian diri sendiri untuk menentukan masa depan.

Sunggut-sungut merusak pola kehidupan rohani (iman, kasih, harapan, doa, pelayanan dan komitmen kepada Tuhan) sehingga mendatangkan hukuman.

Tanggapan Tuhan terhadap sungut-sungut Israel: (1) Mengatur ulang sistem kepemimpina umat di padang gurun dari sentraliasi ke desentralisasi. Musa tidak dipercaya sebagai pemimpin karena meragukan kuasa Tuhan. (2) Memberikan pertolonganNya dan berkatNya yang limpah yaitu manna + daging. Namun bila pertobatan tidak terjadi akan dimurkaNya (3) pemberian daging tanda ketidakpercayaan dan penolakan umat terhadap TUHAN.

Kebaikan, kasih dan keadilan Tuhan ditonjolkan dalam pesan Bilangan 1-23, DIA tetap memberi walau cara Israel salah, motivasinya buruk/jahat. Dia memuaskan jasmani dengan daging tetapi juga sekaligus memusnahkan mereka yang tidak bertobat (tetap rakus). DIA hanya menyelamatkan yang mengambil secukupnya. Mereka yang menuntut berlebihan (menuntut Tuhan agar sesuai dengan seleranya) dibunuh di padang gurun oleh Malaikat maut (1 Kor 10: 5,10).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *