1 Petrus 2:1-10

Ketika kita ingin pergi ke luar kota, pada daerah perbatasan kita akan melihat batu di kanan dan kiri bahu jalan, sebagai tanda bahwa kita akan memasuki satu kota atau telah meninggalkan kota dalam jarak…km. Batu itu menjadi penting, karena selain mengingatkan berapa jauh kita berjalan tetapi mempersiapkan kita, bahwa kita akan memasuki sebuah kota baru.

Pada perikop yang kita baca dan renungkan hari ini. Dibuka dengan kata Oleh karena itu (Yun:oun), yang menunjukkan sebuah kesimpulan dan menghubungkan dengan perikop sebelumnya. Bahwa, dengan melaksanakan sebuah tugas dan tanggung jawab sebagai wujud orang yang dilahirkan baru. Maka pada perikop ini, ingin menyimpulkan sebuah natur dan identitas kehidupan orang percaya yang telah dilahirkan baru.

Kesimpulan ini, digambarkan dengan sebuah gambaran mengikuti Yesus sebagai batu penjuru (ay. 4-10).
Kesimpulan dibuka dengan sebuah kalimat perintah “rindukanlah” (Yun: epipothesate) pada ayat 2 (diterjemahkan LAI, “yang selalu ingin”) dengan terlebih dahulu harus melakukan “tanggalkanlah” (Yun: apothemenoi), pada ayat 1 (diterjemahkan LAI dengan kata, “Buanglah”).

Maksudnya, orang Kristen yang telah lahir baru harus membuang segala kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian dan fitnah (ay.1). Setelah itu, orang Kristen harus merindukan susu (Yun: Gala). Susu di sini adalah sebuah pengajaran (rujukan penafsir), yakni pengajaran yang sehat, untuk membuat seseorang bertumbuh dan beroleh keselamatan (ay.2).

Sumber pengajaran yang sehat itu ada di dalam Yesus Kristus sebagai batu penjuru (ay.4-10). Inilah sebuah identitas dan natur kehidupan kita yang telah dilahirkan baru, bahwa kita harus mengikuti batu penjuru, yakni Yesus Kristus dalam teladan serta pengajaran-Nya. Karena hanya Dialah, Jalan kebenaran dan Hidup serta sebagai pengantara kita kepada Bapa di Sorga (Yoh. 14:6).

Siapa yang selama ini kita ikuti? Apakah kita mengabaikan batu yang mengarahkan kita layaknya batu di bahu jalan di perbatasan kota. Mari kita ikuti Yesus sang batu penjuru, sebagai teladan hidup dan memberikan kita identitas orang yang telah dilahirkan baru.

Asidoro Sabar Parsaulian P.
9 September 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *