Ayub 33: 1- 33

Pernahkah anda sakit berat? Dan di pembaringan anda bertanya-tanya, “mengapa ya Tuhan semua ini terjadi”.

Mengapa ada penderitaan berat? Demikian selalu pertanyaan yang muncul. Tuhan Maha Baik tetapi Ia memberikan keburukan pada anak2Nya. Tuhan Maha Kasih tetapi Ia seolah tidak mempedulikan dan buang wajah dari anak2Nya. Tuhan Maha Kuasa tetapi Ia tak memberikan pertolongan ketika anak2Nya dalam keadaan tak berdaya. Tuhan Mahabenar tetapi kejahatan dan kuasa gelap (Iblis) merajalela di dunia.

Ayub diperkenalkan sebagai tokoh saleh, tokoh benar, tokoh hormat Tuhan yang mengalami penderitaan yang diberikanNya dengan mengijinkan Iblis bekerja memporakporandakan seluruh keluarganya dan dirinya. Ayub berulangkali menyatakan bahwa ia sakit berat bukan karena dosa, bukan karena pelanggaran etika moral, bukan karena mengingkari perjanjianNya. Tuhan yang berdaulat mutlak memberikan tingkat/dosis tinggi penderitaan kepadanya untuk suatu maksud, suatu rencana, suatu ketetapan yang baik untuk kemuliaanNya.

Beberapa teman dekat Ayub, antara lain Elifas, Elihu, Zofar, Bildad mengeluhkan dosa Ayub, menuduhnya, menggugatnya, menghinanya, mengolok2nya. Ayub tetap dapat meladeni semua protes dan introgasi mereka dengan menguraikan kedaulatan Tuhan kepada dirinya dan segala karya tangan Tuhan atas segala peristiwa di alam semesta. Bagi Ayub, tidak ada satu peristiwa yang tidak dikendalikan, dikontrol, direncanakan oleh Tuhan, terkhusus penderitaan berat (parah).

Dalam perikop ini Elihu menyaksikan pengenalannya akan TUHAN melalui wejangan theologis Ayub. Elihu memberikan kesaksiannya bahwa pengenalannya akan Tuhan semakin bertambah-tambah melalui penderitaan Ayub yang ia lihat dengan mata kepala sendiri.

Ayub menderita menjadi suatu alat yang efektif bagi pendidikan iman untuk Elihu secara khusus. Demikian kesaksian pengenalan Tuhan bagi Elihu:

  1. Roh Tuhan dan nafas Yang Mahakuasa membuatnya hidup (ay 4)
  2. Tuhan membentuknya dari tanah liat (ay 6)
  3. Tuhan lebih dari manusia (ay 12)
  4. Tuhan menjadi musuh bagi orang fasik (ay 10)
  5. Tuhan mengawasi tiap langkah manusia (ay 13)
  6. Tuhan tak dapat dibantah dan ia tidak harus menjawab doa manusia (ay 13)
  7. Tuhan berbicara dengan seribu satu cara (ay 14-15)
  8. Tuhan menegur manusia hingga terkejut (ay 16)
  9. Tuhan mengutus malaikat2Nya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada manusia (ay 23)
  10. Tuhan mahakasih melepaskan orang yangmenderita demi rencana penebusanNya (ay 24)
  11. Tuhan mendengar dan menjawab doa anak2Nya sehinga mengalami kesegaran, bersukacita dan memuliakan (memuji) Tuhan (ay 25- 27
  12. Tuhan membebaskan nyawanya anak2Nya dari liang kubur hingga melihat terang dan diterangi oleh cahaya hidup (masuk surga) [ay 28, 30)

Ayub memanfaatkan penderitaannya sebagai ruang kelas iman, kurikulum pembinaan rohani kepada sahabat-sahabatnya. Dalam keadaan sakit Ayub memaksimalkan mulutnya, lidahnya seluruh kemampuan berbicara untuk membicarakan Tuhan (ay 2). Ayub sebagai guru derita berbicara sangat dekat di telinga Elihu (ay 8). Ayub melakukan pemuridan dengan pola penyampaian ucapan2 ilahi. Mereka berdialog, bertanya jawab, berdebat kusir, saling membela, diskusi sengit, saling menguatkan, saling mendengar orasi satu dengan yang lain. Alhasil Elihu memperoleh pengenalan akan Tuhan yang semakin mendalam.

Tuhan merencanakan penderitaan bagi kita untuk menolong orang lain semakin mengenal Tuhan Yesus

Ya Tuhan! Saya mau menggunakan kesempatan sehat atau derita untuk maksimal mengajarkan kedaulatanMu, menyampaikan iman, mengorasikan ENGKAU kepada dunia yang membutuhkanMu. Pakai aku Tuhan Yesus!

Salam memperkenal Tuhan bagi dunia melalui penderitaanmu

Tonny Mulia Hutabarat
8 September 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *