Apa itu Pertobatan?
Apa itu pertobatan?, bagaimana pertobatan terjadi dalam hidup seorang manusia?, dan
bagaimana seseorang memahami bahwa ia sungguh-sungguh sudah bertobat? adalah pertanyaanpertanyaan yang sering dipertanyakan di dalam maupun terhadap kekristenan. Yohanes 3:1-12 sendiri
menyediakan sebuah konteks tentang pertobatan yang layak untuk disimak.
Setelah Perjanjian Lama, empat ratus tahun lamanya orang Israel tidak mendengarkan
suaraAllah secara langsung (masa Intertestamental). Karena itu tampilnya Yohanes menjadi hal yang
istimewa di tengah masa penantian mereka. Tidak heran ketika Yohanes berseru-seru dan mengajak
orang untuk menyerahkan dirinya kepada Allah dengan jalan bertobat dan memberi diri dibaptis
banyak orang yang tidak ragu untuk datang. Orang-orang Israel sendiri sudah sangat memahami apa
arti pertobatan karena pertobatan adalah hal penting yang juga disampaikan dalam berita Perjanjian
Lama. Bagi mereka, panggilan pertobatan adalah panggilan untuk kembali kepadaAllah.
Panggilan pertobatan Yohanes Pembaptis ini sendiri sangat layak untuk di renungkan bagi
kehidupan masa kini. Pasalnya hari-hari ini semakin banyak orang yang hidup di dalam dosa tanpa
sedikitpun merasa bersalah. Spirit zaman yang mengusung liberalisme, relativisme, konsumerisme,
dan berbagai paham kebebasan lain membuat dosa dengan mudah dikompromikan asal dipandang
tidak menyusahkan orang lain. Hari-hari ini sungguh banyak orang perlu merenungkan dosanya dan
bertobat. Kita benar-benar harus takut dan gentar di hadapan Allah sebab firman Allah menegaskan
bahwa murka Allah siap dicurahkan bagi segala dosa dan kekejian (lih. Rom 6:23; 1:18; 3:23). Dosa
sesungguhnya bukan hanya persoalan kita menyakiti sesama kita atau tidak. Dosa bukan hanya
persoalan hidup kita bermoral atau tidak. Terlebih utama dosa adalah ketika seorang manusia
melawan Allah, menghina kekudusan-Nya, menganggap sepi kemuliaan-Nya, dan memberontak
kepada Allah beserta segenap ketetapan-Nya. Dengan demikian dapat dipastikan semua manusia
berdosa dan harus bertobat. Pertobatan manusia yang sejati sendiri, yang memimpin pada
keselamatan, haruslah terjadi di dalam Kristus, sebab pertobatan sejati akan memimpin pada
kesempurnaan pengampunan yang hanya akan dialami melalui iman kepada Tuhan Yesus yang telah
menjadi korban tebusan sempurna tanpa noda dan cela. Jadi, baik orang Kristen maupun non Kristen,
semua orang harus sungguh-sungguh bertobat di hadapan Allah, mengingat kemalangan hidupnya
karena dosa, melaui iman kepada Tuhan Yesus Kristus.
Pertobatan Menghasilkan Buah
Yohanes 3:1-12 juga memperlihatkan sisi lain dari proses pertobatan. Yohanes pembaptis
sempat menegur keras orang Farisi dan orang Saduki yang datang untuk dibaptis namun tanpa
kesungguhan untuk bertobat. Mengapa Yohanes menegur mereka? Yohanes Pembaptis mencurigai
mereka datang dibaptis hanya sebagai tindakan formalitas tanpa pertobatan. Dari sini kita memahami
saudara bahwa pertobatan bukan hanya sebuah tindakan seremonial untuk menyatakan klaim bahwa
kita adalah umat Allah, atau orang Kristen, yang layak mendapat bagian kerajaan sorga. Pertobatan
tidak berfungsi seperti itu. Pertobatan (metanoia) adalah sebuah proses berbaliknya seorang manusia
dari hidup yang lama di dalam dosa menuju kepada Allah yang menyelamatkan. Firman Tuhan
selanjutkan menambahkan bahwa pertobatan yang sejati adalah pertobatan yang menghasilkan buah.
Apa maksudnya? Buah yang sesuai dengan pertobatan, sebagaimana yang dikatakan Yohanes
(ay.8), artinya “melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu” seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 26:20 (bdk. Mat 7:16; Rm. 7:4), yang kemudian
dijabarkan lagi lebih panjang dalam Kitab Galatia khususnya Galatia 5:22-23.
Maka dari sini saudara, kita diajar untuk menghidupi hidup percaya kita, hidupi pertobatan
kita dengan menyatakan buah setiap hari. Setiap hari kita senantiasa mengarahkan diri kepada
Tuhan. Setiap hari kita membangun keintiman dengan Tuhan. Dan setiap hari kita mengusahakan
kehidupan yang berbuah bagi hormat kemuliaan nama Tuhan.
Yohanes 3:1-12 mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah manusia malang yang layak
dimurkai karena dosa-dosa kita. Kesadaran akan kemalangan ini adalah hal yang baik yang akan
memimpin kita untuk bertobat dan mengalami pengampunan yang sempurna dalam Kristus yang
menyatakan Kasih Karunia Allah yang penuh kemurahan. Pertobatan yang sejati itu sendiri pada
akhirnya akan memimpin seseorang untuk menghadirkan buah yang baik sesuai kebenaran Allah di
tengah kehidupan ini, karena itu seseorang yang sudah bertobat, percaya, dan diselamatkan akan
terus menuntut dan membawa dirinya untuk berbuah bagi Allah di tengah kehidupan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *